Petaka Yang Berbuah Manis Untuk Orang Lain

Halo teman.

Pernahkah berfikir bahwa kejadian buruk yang menimpa kita terkadang mencegah orang lain untuk tidak melakukan hal buruk yang sama?

Kalian pasti sering mendengar bahwa pengalaman adalah guru yang sangat baik dan pengalaman buruk mengenai suatu dapat menjadi sebuah senjata buat kita untuk menolong orang lain sehingga mereka tidak jatuh di lubang yang sama dengan kita.

Saya ingin berbagi sebuah cerita yang menurut saya adalah sebuah petaka bagi saya, namun menjadi buah yang sangat manis untuk seseorang yang bahkan tidak saya kenal.

Ketika saya memulai kehidupan baru saya sebagai mahasiswa internasional di kampus Tennessee Technological University, salah satu kesulitan awal yang saya hadapi adalah tentu saja mencari makanan, khususnya makanan yang halal. Di Amerika, tidak ada makanan yang dilabelkan halal, kecuali makanan yang diimpor dari negera-negara islam timur tengah atau Asia.

Sebenarnya bisa saja saya pergi ke toko swalayan seperti Walmart dan Wallgreen untuk membeli makanan, namun saya tidak berani langsung pergi keluar area kampus karena memang saya belum mengenal daerah kota Cookeville. Maka dari itu pilihan terakhir yang saya punya adalah membeli makanan di restoran cepat saji yang berada di dalam area kampus. letaknya lumayan sangat dekat dengan asrama saya. Oh iya, sebelumnya inilah penampakan asrama internasional tempat tinggal saya selama di Tech Campus.

DSCN5063

Penampakan gedung asrama internasional The Global Village

DSCN6949 (2)

Asrama The Global Village

Tepat dibelakang asrama The Global Village terdapat juga gedung asrama yang baru saja dibangun bernama New Hall North. Gedung ini memiliki satu ruangan besar di lantai 1 tempat beberapa restoran cepat saji berjualan. Salah satunya adalah restoran cepat saji pizza bernama Papa Johns.

Papa Johns awalnya menjadi tempat favorit saya membeli makanan jika lapar tiba. Namun, setelah kantin kampus buka saya sudah tidak pernah lagi membeli makanan di Papa Johns. Pasalnya saya mengalami hal buruk yang sampai sekarang pun masih saya sesali.

Saya memakan pizza pepperoni yang dimana pepperoninya mengandung campuran daging babi. Jadi tanpa mengetahui hal tersebut saya memakan pizza pepperoni hampir selama kurang lebih satu minggu. Bisakah teman-teman membayangkan hal tersebut?

Jadi ceritanya tepat sehari sebelum kelas dimulai, malamnya saya pergi ke Papa Johns untuk membeli pizza pepperoni. Setelah saya membayar satu kotak pizza, saya tidak langsung membawanya ke kamar namun duduk di salah satu kursi yang disediakan lalu memakan pizza tersebut. Setelah memakan dua buah potongan pizza dan hendak menghabiskan pizza potongan ke 3, teman saya Lee datang dan menghampiri saya. Dia pun menegur saya tentang pizza yang saya makan.

PAPA JOHN'S PIZZA Large Pepperoni Single Topping, Papa John's Pizza Box PapaJohns.com online order bag

Pepperoni Pizza yang dijual di Papa Johns

Luqman you are a muslim, arent’t you?” kata Lee kepada saya yang masih mengunyah pizza pepperoni.

Yes I am, what is up?” Balasku kepada Lee.

Don’t you know that the pizza you are eating right now is made of pork?!” Balasnya.

Masih dalam keadaan mengunyah pizza tersebut, tanpa pikir panjang saya langsung memuntahkan semua pizzanya. Untuk beberapa saat saya hanya diam dan bingung. Lalu saya melihat Lee mendatangi kasir Papa John dan bertanya perihal pizza tersebut dan benar apa yang dikatakan oleh Lee, pepperoni yang terdapat di pizza tersebut mengandung campuran daging babi. Saya shock bukan kepalang dan langsung menyadari bahwa saya telah memakan suatu hal yang sangat diharamkan di agama Islam. Tidak terpikir oleh saya untuk bisa melanggar hal yang paling saya wanti-wanti ketika tinggal di Amerika.

Jadi selama ini yang saya makan ada daging babinya? Oh my God!!!” pikirku dalam hati.

Melihat saya kebingungan dan merasa shock, Lee mencoba menenangkan saya dan berkata kalau semuanya baik-baik saja. Saya berterima kasih sebanyak mungkin kepada Lee yang telah mengingatkan saya tentang makanan yang seharusnya tidak  boleh saya makan. Saya kagum sama dia karena Lee ini seorang kristiani dan mau mengingatkan saya yang seorang muslim.

Setelah kejadian itu saya tidak pernah sekali lagi pergi ke Papa Johns, tapi saya masih tetap makan pizza. Namun, pizza yang dapat saya makan hanya vegie pizza (pizza sayuran) dan chees pizza (pizza keju).

Di atas saya berkata bahwa kejadian buruk yang menimpa saya menjadi buah manis untuk orang lain, benar? Yup. Seorang muslim yang tidak saya kenal berhasil saya peringatkan mengenai pizza pepperoni ini.

Setelah beberapa hari perkuliahan di Tech Campus berjalan, seperti biasanya saya pergi makan siang ke kantin kampus yang berada di lantai pertama Roaden University Center atau sebutan di Indonesia seperti rektorat. Kantin di Tech Campus ini seperti buffet jadi kita bisa mengambil makanan apapun dan semau kita. Setelah mengambil beberapa makanan dan memutuskan untuk duduk di salah satu meja yang sudah disiapkan, kebetulan letak meja tempat saya duduk berdekatan dengan tempat berbagai macam pizza diletakkan.

Beberapa saat kemudian saya melihat seorang mahasiswa yang saya tahu persis kalau dia datang dari negara timur tengah dan seorang muslim. Dia mendekati tempat pizza dan mengambil pizza pepperoni, lalu diletakkannya ke atas piring makannya. Spontan saya langsung berdiri meninggalkan makanan saya dan menghampiri laki-laki tersebut.

Excuse me, Hi I am Luqman. I am sorry, but are you a muslim?” Tanyaku kepada laki-laki yang namanya saya sudah lupa.

Hello, yes I am and why?” jawabnya kepada seraya memperlihatkan muka kebingungannya.

I am so sorry but I think you must not take pepperoni pizza. The pepperoni is actually made of pork.” jawab saya.

Really?!” tanyanya dengan mata yang agak shock dan nada yang kurang percaya.

Saya langsung bertanya kepada seorang chef yang kebetulan lagi berada di dekat tempat pizza.

Excuse me sir, I would like to ask you about this pizza.” Kata saya kepada chef tersebut.

Yes, what is it?” Jawabnya.

Is this pizza made of pork?” Tanya saya ke chef tersebut.

Yes, it is” Balasnya.

Mendengar percakapan saya dengan chef tersebut, sontak laki-laki tersebut kaget dan shock terhadap apa yang baru saja mau dia makan. Setelah itu laki-laki itu berterima kasih kepada saya karena telah menegur dan memberitahu perihal pizza tersebut. Dia lalu menaruh kembali pizza yang baru saja dia ambil dan mengambil piring baru dan kemudian mencari makanan yang lainnya sambil bertanya apakah makanan tersebut terbuat dari daging babi atau tidak.

Setelah semuanya selesai sayapun berjalan kembali menuju meja makan saya sambil tersenyum riang. Apa sebab? Karena saya berhasil menyelamatkan saudara sesama muslim saya yang hampir melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan sebelumnya. Saya mengetahui bahwa laki-laki tersebut baru pertama kali ke Amerika, sehingga dia tidak jauh berbeda dari saya yaitu belum banyak pengetahuan dan pengalaman.

Walaupun saya mengalami hal yang tidak saya inginkan, paling tidak hal ini tidak sepenuhnya buruk. Sungguh apa yang saya alami dapat menjadi penolong bagi orang lain dan saya bersyukur alhamdulillah karena hal tersebut.

 

 

 

Desa Sihir Diagon Alley di Gatlinburg, Tennessee

DSCN5857

The Village Shop of Gatlinburg, It made me feel like I was in Old London!

Di dalam novel yang ditulis oleh JK Rowling, Harry Potter diceritakan begitu terkesima ketika pertama kali menginjakkan kaki di Diagon Alley; yaitu sebuah desa tersembunyi yang hanya dapat dimasuki oleh para penyihir. Kata “Wooaaahh” dan mulut yang membentuk kata “O” besar, serta mata yang berkaca-kaca seperti di film Anime adalah ekspresi yang ku punya ketika pertama kali memasuki The Village Shops yang bertempat di kota Gatlinburg, Amerika Serikat. Jika Diagon Alley adalah tempat yang menjual barang-barang sihir, maka The Village Shops adalah tempat yang menjual coklat dan jenis barang non-sihir lainnya.

Akupun berfikir bahwa aku sedang berada di kota London dikarenakan arsitektur bangunan di The Village Shops yang bertemakan mountain dan rustic mirip sekali dengan yang ada di Diagon Alley.

Lamunanku buyar setelah Siko dan Chaz, teman seperjalananku, memanggilku untuk segera masuk ke dalam area The Village Shops.

Let’s explore this amazing place!” ucap Siko.

Ah sorry, this place amazes me so much like I am being at Diagon Alley in London ya know!” balasku.

Akupun langsung mengeluarkan kamera untuk kemudian mengambil banyak foto di daerah tersebut. Kami mencoba memasuki toko bernama Taffy Logs yang bangunannya mirip dengan toko penjual tongkat sihir Ollivander. Setelah memasuki toko bukannya tongkat sihir yang dijual melainkan adalah coklat. Segera kami disambut hangat oleh pemilik toko dan langsung ditawarkan untuk melihat proses pembuatan coklat. Kamipun setuju dan langsung diantar ke samping toko dimana terdapat seorang chef yang sedang mengoperasikan mesin pembuat permen coklat. Menurutku, toko ini sangat bagus untuk merasakan kenikmatan coklat terbaik Gatlinburg sambil melihat proses pembuatan coklat tersebut.

Dari Taffy Logs kami kembali menjelajahi tempat lainnya. Dekat dengan pintu masuk area ini terdapat kursi yang didekorasi dengan labu kuning dan 3 orang-orangan sawah. Aku mendengar dari percakapan warga sekitar bahwa kursi ini sangatlah terkenal sebagai salah satu tempat bagus untuk berfoto dikarenakan kursi ini selalu didekorasi sesuai dengan event atau festival yang sedang berlangsung di AS. Tema yang dipakai waktu itu adalah Hallowen dikarenakan aku berkunjung ke Gatlinburg beberapa hari setelah Hallowen selesai.

DSCN5837The Village Shops Centre dengan dekorasi Halloween

Setelah puas mengambil banyak foto kamipun kembali melanjutkan perjalanan. Setelah beberapa menit berjalan kaki sampailah kami ke sebuah persimpangan dimana di dekat persimpangan tersebut terdapat sebuah gedung yang mirip dengan Gringotts Bank di film Harry Potter.

“Look at that! Isn’t that Gringotts Bank, I mean it kinda looks like it!

“It feels like we are in the Wizarding World, aren’t we?” Ucapku ke teman-teman sembari menunjuk gedung yang berada dekat di persimpangan tersebut.

DSCN5860

Salah satu persimpangan di The Village Shop

Kamipun mengabadikan gedung tersebut ke dalam kamera. Disepanjang perjalanan menelusuri The Village Shops, senyuman dan sapaan dari para penduduk Gatlinburg selalu menghujani kami. Hampir semuanya mengajak kami untuk memasuki toko mereka. Ramah dan sederhana adalah kata yang cocok untuk menggambarkan suasana di area ini. Hebatnya lagi kebanyakan dari bangunan yang aku lihat terbuat dari kayu dan batu bata yang membuat tempat ini terlihat sangat sederhana namun elegan.

Sebagai salah satu Big Fans-nya Harry Potter, tempat ini akan membawa kita seperti berada langsung di dunia sihir. Dengan potensi wisata yang sangat besar dan keramahan warga disana, Gatlinburg telah menjadi salah satu wisata terbaik di negeri Paman Sam.

Putihnya Salju, Pembawa Rasa Riang Si Anak Bengkulu

When Snow Falls, Nature Listen

Duduk Santai Di Putihnya Jalan Setapak Kampus Lehigh

Duduk Santai Di Putihnya Jalan Setapak Kampus Lehigh

Siapa sih yang gak suka salju ?

Benda kecil putih bersegi enam nan indah dan dingin ini sudah banyak dimimpikan oleh anak-anak kecil Indonesia sana, termasuk saya sendiri :). Bagi saya dulu, salju itu merupakan hal yang magic dan luar biasa (sampe sekarang masih :P). Duluuuuuu banget (Kalo gak salah sewaktu SD) saya berfikir, “Bagaimana bisa ada benda putih jatuh dari langit? Bukannya hanya air yang jatuh dari langit? Kalo hujan dibuatnya di awan, kalo salju dibuatnya dimana ?” those question were wandering around my head when I was a kid.

University Center Kampus Lehigh

University Center Kampus Lehigh

Beranjak ke SMA saya suka nonton film di Theatre 21. Waktu itu harga ticket masih 10 ribu dan hampir tiap minggu saya sama teman-teman nonton dan nongkrong disana. Dari sanalah saya sering nonton film-film Barat yang banyak adegannya berada di daerah yang bersalju. Waktu itu saya benar-benar terkesima banget dengan benda dingin nan kecil ini. Pengen rasanya saya yang berada di adegan tersebut, tidak perduli mau adegannya lagi balap-balapan, bunuh-bunuhan atau adegan romantisan :P, yang pastinya saya mau berada dan menggantikan sang aktor beradegan di tengah dinginnya benda kecil yang disebut salju ini. Saya tidak mau mikir lagi mau salju itu dibuat dimana yang pasti saya sangat ingin sekali megang dan makan salju. Tapi itu bukanlah hal yang mudah dan saya sadar itu. Mikirin mau ke Amerika aja dulu itu gak berani. Ngeri coyy !!!. Dulu dipikiran saya, Amerika itu banyak orang bawa pistol dan saling membunuh, banyak premannya, banyak narkobanya, banyak cewek-cewek seksinya 😛 dan tempatnya gak nyaman banget deh. Mungkin mindset itu ada karena pengaruh film-film yang saya tonton. But Honestly, setelah tinggal selama kurang lebih 7 bulan lamanya disini, Amerika Serikat itu gak sama sekali sama dengan apa yang ada di film-film kok. Well, walaupun bagian “banyak cewek-cewek seksiny” itu benar adanya :P.

Anyway, setelah berhasil mendapatkan beasiswa ini. Hanya satu hal yang waktu itu saya benar-benar gak sabar pengen cepat-cepat rasakan. Bukan pengen cepat-cepat kuliah, bukan juga pengen cepat-cepat menjelajah kesana -kemari. Tapi saya ingin langsung lompat ke Winter alias musim dingin. Saljulah hal pertama yang saya bayangkan ketika saya menerima e-mail notifikasi keberhasilan saya dari AMINEF.

Awal musim dingin kemarin saya masih sibuk menghabiskan waktu saya dengan belajar. Karena musim dingin di Cookeville datang di waktu yang sama dengan waktunya ujian akhir. Well, sangat menyedihkan sekali bahwa saya gak bisa merasakan salju di Cookeville pada waktu itu karena saljunya gak turun-turun :(. Ada sih satu hari Cookeville bersalju tapi hanya untuk beberapa jam dan setelah itu meleleh :(.

Salju Tipis di MS Copper Hall

Salju Tipis di MS Copper Hall

Salju Tipis Di Pinkerton Hall

Salju Tipis Di Pinkerton Hall

Berbekal tiket ke Bethlehem City, Pennsylvania, saya berharap bisa melihat salju disana bareng guru TOEFL iBT saya dulu bang Budi Waluyo. Saya berpikir disana bakalan bersalju karena Bethlehem itu letaknya lebih ke utara dari pada Cookeville, Tennessee. Kan kalo lebih ke utara berarti lebih dekat dengan Kutub Utara dan pasti lebih cepat dingin dan bersalju. But sadly, that was not true !. 3 minggu berlalu setelah saya tinggal di Fulbright House kampus Lehigh, gak ada tanda-tanda salju akan turun. Bahkan sampai udah lihat aplikasi cuaca di smartphone gak bakalan ada salju sampe minggu depan 😦 bahhhhh !!. Depresi banget. Saya udah berpikiran aja kalo tahun ini bakalan diisi tanpa salju.

Beberapa hari yang lalu, bang Budi bangunin saya dari tidur saya yang nyenyak sehabis sholat subuh. Bang Budi bilang kalo di luar lagi turun salju. Tanpa ba-bi-bu langsung aja saya sibakkan selimut sarung saya dan langsung melongok ke jendela tepat di depan tempat saya tidur. Subahanallah, ternyata beneran lagi turun salju 😀 !!!

Salju Dari Atas Jendela Kamar

Salju Dari Atas Jendela Kamar

Foto diatas diambil dari jendela kamar sesaat setelah saya bangun tidur. Saya benar-benar senang banget waktu itu tapi juga saya merasa sedih. Soalnya saljunya tipis, gak setebal seperti di dalam film-film yang saya sering lihat. Dan juga saljunya hanya bertahan selama 1 jam jadi benar-benar tipis.

Salju Di Depan Fulbright House

Salju Di Depan Fulbright House

Sedih memang, tapi rasa exciting saya lebih gede dari rasa sedih saya. Niat untuk keluar dan ambil-ambil foto lantas tidak luntur, malah semakin menjadi-jadi karena takut saljunya berhenti dan meleleh. Bahkan rela-relain gak mandi, langsung pake baju thermal, singlet, kaos, jaket tebal dan gak lupa celana, meluncurlah saya ke lantai bawah. Saya gak punya waktu banyak karena matahari sudah sangat bersinar dan udah semakin hangat. Kalo saljunya sampe meleleh sebelum ambil foto bakalan nyesel banget dah, karena soalnya nungguin nih sulju turun sampe 3 minggu lamanya :P. Kebanyakan foto sih cuma foto-fotoin daerah sekeliling doang. But here 3 most good photos of my first snow at Bethlehem ;).

My First Snow At Bethlehem City, Pennsylvania

My First Snow At Bethlehem City, Pennsylvania

My Love On Snow, Cici

My Love On Snow, Cici

Love From USA <3

Love From USA ❤

Upss, 2 foto diatas saya ambil khusus untuk wanita terhebat kedua di hidup saya Cici Febriyanti. Yang pertama pastinya ibu saya :). Setelah sesi ambil-ambil foto selesai, saya masuk ke dalam kamar lagi. Sembari istirahat, saya kembali melihat aplikasi Weather di smartphone saya dan disana tertulis lambang salju di tanggal 6. Hell no!!!. Disana tertulis saljunya bertahan seharian jadi bakalan lebih tebal lagi dari hari ini. :D.

There’s something beautiful about walking on snow that nobody else has walked on. It makes you believe you are special

Penantian pun sudah selesai, tepat hari ini tanggal 6 Januari salju turun dengan lebat sesuai dengan perkiraan cuaca di smartphone saya. Gak pake lama, selimut sibakkan dan langsung pergi ke kamar mandi. mandi pun gak lama. Asal gosok badan sekali, gosok gigi 5 kali gosok dan cuci muka 2 kali usap selesai. wkwkwk 😛 dan akhirnya meluncurlah saya dan bang Budi Waluyo keluar rumah mengelilingi kampus Lehigh sambil ambil-ambil foto.

I Am Holding Snow

I Am Holding Snow

Meresapi Dingin dan Indahnya Salju

Meresapi Dingin dan Indahnya Salju

Merasakan Pertama kalinya Salju Jatuh Di Muka

Merasakan Pertama kalinya Salju Jatuh Di Muka

Jalan Di Atas Awan

Jalan Di Atas Awan

Sitting On The Snowy Bench

Sitting On The Snowy Bench

Jadi Monyet Dulu Bentar :P

Jadi Monyet Dulu Bentar 😛

Snow Ball War

Snow Ball War

Menikmati Segarnya Udara Winter Di Bawah Pohon

Menikmati Segarnya Udara Winter Di Bawah Pohon

Di Depan University Center

Di Depan University Center

Di Depan Linderman Library

Di Depan Linderman Library

Gak bisa lama-lama di luar karena udaranya -7 derajat. Dingin gila, ini jari-jari sampe gak terasa sakit kalo dicubit. Akhirnya setelah 1 jam penuh, rasa exciting dan childish saya terpuaskan sudah. Ditambah lagi udah nyelesaikan nazar makan salju :P, wkwkwkwk. Rasanya seperti bunga es di kulkas :P.

Jauh dari orang tua, jauh dari pacar, jauh dari adek-adek tercinta dan jauh dari teman lama. Hanya salju inilah yang dapat membawa rasa riang kepada saya, si anak Bengkulu :).

Anyway, itu saja yang bisa saya bagikan pada tulisan ini. Hanya tulisan biasa dengan tujuan berbagi cerita. Itulah blog saya :).

Don’t ever let your friends tell you that you can’t do something, you know yourself better than them and you know you can do what they think you can’t“-Luqman Arjasari Asa

Backpackeran di Washington, D.C.

Aku taruh mimpiku untuk ke Amerika 5cm di depan keningku“-Juple (5cm Movie)

I, standing in front of White House

I AM STANDING IN FRONT OF WHITE HOUSE

Foto bareng teman Afrika saya, Jose.

FOTO BARENG SAMA TEMAN AFRIKA SAYA, JOSE

Mungkin udah ada ratusan kali kalimat diatas saya ucapin. Entah itu di depan cermin, di dalam toliet sewaktu mandi, baung air besar, sebelum tidur dan lain-lain. Yang pastinya, kalimat itu salah satu sumber motivasi bagi saya kapanpun saya merasa down atau hilang semangat.

Anyway, beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 14 Desember 2014, saya akhirnya mendapatkan kesempatan untuk bersilaturahmi ke Gedung Putih, tempat oom Obama kerja :D. Well, honestly tempat dan gedung ini udah saya lihat ribuan kali mungkin di dalam televisi. Senang dan bangga rasanya saya akhirnya bisa berdiri dan menghirup udara malam yang segar di tempat impian saya ini :).

You may say that I am a dreamer, but I am not the only one

STANDING IN FRONT OF WASHINGTON MONUMENT AT LINCOLN MEMORIAL

STANDING IN FRONT OF WASHINGTON MONUMENT AT LINCOLN MEMORIAL

RIGHT IN FRONT OF "THE OBELISK" a.k.a "THE WASHINGTON MONUMENT"

RIGHT IN FRONT OF “THE OBELISK” a.k.a “THE WASHINGTON MONUMENT”

Selain berkunjung ke Gedung Putih, saya juga malamnya langsung bergegas ke Washington Monument yang jaraknya tidak terlalu jauh. Sempatin juga ambil foto Washington Monument dari tempat Lincoln Memorial paginya. Monument ini benar-benar besar banget. Mungkin besarnya Monas kalah sama besarnya Washington Monument ??? who knows ??? 😀

Dream it, wish it, do it”

LINCOLN MEMORIAL

LINCOLN MEMORIAL

I AND BUDI WALUYO IN FRONT OF THE LINCOLN MEMORIAL

I AND BUDI WALUYO IN FRONT OF THE LINCOLN MEMORIAL

Hari kedua saya di Washington, D.C. cuaca gak terlalu bagus alias hujan deras. Tapi hujan tersebut gak bisa matahkan semangat saya untuk tetap pergi ke Lincoln Memorial :D. Rela-relain badan basah kuyup yang penting foto tetap eksis 😀 !!!!

Karena hari keduanya hujan, kita gak bisa melakukan banyak hal. Kita rencana habis dari Lincoln Memorial mau menuju ke Capitol City. Tapi, berhubung Capitol-nya lagi direnovasi jadi kita batalin dan langsung menuju stasiun bus karena bus kita berangkat jam 5 sore pulang menuju kota Bethlehem.

Masih banyak tempat-tempat keren di Washington, D.C. tapi gak saya kunjungin semua, karena in sha Allah bulan Maret 2015 nanti saya bakalan balik lagi ke sana tapi dengan tujuan untuk mengikuti Re-Entry Workshop dari World Learning.

That is all I can share to you guys 😀 !!!

Global UGRAD – I Put USA Into My Backpack 2

Alhamdulillah, akhirnya saya bisa lanjut lagi nulis blog setelah sekian lama vakum kurang lebih 7 bulan.

Hari ini tanggal 28 Desember, tepat 3 hari lagi sebelum pergantian tahun baru 2015. Sekarang ini saya lagi tinggal di Fulbright House di Lehigh University bareng guru TOEFL iBT saya dulu Budi Waluyo.

Hari ini saya akan lanjut bercerita tentang perjuangan saya mendapatkan beasiswa Global UGRAD Exchange Program yang mengantarkan saya belajar di Amerika, tepatnya di Tennessee Technological University, di kota Cookeville, negara bagian Tennessee.

editan 1         editan 2

Setelah saya mendeklarasikan bahwa saya akan menaruh Amerika Serikat ke dalam ransel saya alias harus dapat beasiswa ini, kehidupan saya berubah. Tiap hari di pikiran saya yang ada hanyalah bagaimana caranya saya supaya bisa cepat mahir berbicara Bahasa Inggris dengan fasih. Segala cara saya tempuh mulai dari belajar dari dasar lagi sampai mengikuti les TOEFL di UPT Bahasa Inggris di kampus saya. Selama belajar TOEFL di kampus, saya berteman dengan mahasiswa Fakultas Hukum yang bernama Andri. Dia dan saya satu kelas di kelasTOEFL pemula. Pada suatu waktu kita ngobrol dengan menggunakan Bahasa Inggris. Tentu saja Bahasa Inggris saya masih sangat kaku pada saat itu. Sewaktu kita ngobrol saya ungkapin bahwa saya pengen banget cepat-cepat bisa speaking dengan lancar mengingat deadline beasiswa yang udah semakin dekat. Saat itu dia menyarankan saya untuk gabung ke klub bahasa inggris bernama KITA klub. KITA itupun sendiri kepanjangan dari Klub Inggris Teman Anda. Katanya KITA klub itu dimentorin sama orang Amerika asli. Wah wah wah 😀 mendengar kalo klub itu dimentorin sama orang asli Amerika alias Native English Speaker asli membuat saya semangat sekaligus penasaran dengan klub ini. Dengan modal nekat dan membaca ayat kursi akhirnya meluncurlah saya ke KITA Klub yang berada di daerah Tugu Hiu. Lumayan jauh dari rumah saya, sekitar 15 menit kalo ngebut 😛 dan 20 menitan lebih kalo santai.

(Sebenarnya cerita tentang KITA Klub sudah pernah saya tulis , bisa baca disini: 10 Months English-Dari Passive ke Active dalam waktu 10 bulan. Tulisannya enggak terlalu detail jadi akan saya ceritakan ulang dengan secara detail pengalaman saya di KITA Klub)

Hari pertama saya di KITA Klub merupakan hari perubahan bagi saya, karena sewaktu saya masuk dan mendaftar menjadi member (dimana harus bayar 80 ribu pertahun dulu 😛 ) saya melihat banyak bule. Bukan hanya 1 tapi ada 7 orang bule :-O, 4 perempuan dan 3 laki-laki dimana salah satu dari laki-laki tersebut bernama Nathan Nance dan beliau lah yang menjadi mentor di KITA Klub ini. Di hari pertama tersebut saya mulai berkenalan dengan teman-teman bule dan orang lokal (maksudnya mahasiswa di Bengkulu 😛 ). Hari-hari saya di KITA Klub sangatlah seru dan menyenangkan. Saya bertemu dengan orang-orang hebat dan para pemimpi yang sama seperti saya, sama-sama bermimpi kuliah di luar negeri.

editan 3

Foto di atas diambil di depan gedung KITA Klub bersama teman-teman anggota yang lain.

Disana ada yang namanya bang Andri Saputra – saya menggunakan kata abang dan mbak untuk memanggil yang lebih tua :). Dia sekarang sudah menamatkan kuliah S1-nya di IAIN Bengkulu. Abang Andri adalah salah satu anggota KITA Klub yang memberi tahu saya tentang beasiswa Global UGRAD ini. Saya sekali lagi pengen bilang terima kasih yang sebesar-besarnya ke abang Andri Saputra jika baca tulisan saya yang satu ini, karena berkat abang saya bisa menggapai mimpi saya. Alright, back to the story, setelah saya mengetahui tentang beasiswa Global UGRAD ini, jalan menuju mimpi saya semakin jelas dan terang. Seperti yang pernah saya ceritakan di cerita sebelumnya bahwa bagi saya waktu itu No Days Without English. Seperti yang orang-orang bilang, No Pain No Gain. Akibat saya terlalu fokus praktek bahasa inggris saya, alhasil IPK semester 3 saya anjlok. Well, alhamdulillah masih di atas 3, tapi yah gak sesuai target awal.

Dimulai dari awal saya masuk ke KITA Klub sekitar pertengahan Januari sampai deadline beasiswa Global UGRAD yang berdasarkan pamfletnya 1 November, saya hanya punya waktu lebih dari 10 bulan untuk mempersiapkan semuanya. Mulai dari persiapan aplikasi, mental, pengetahuan saya tentang Amerika Serikat itu sendiri dan tentu saja yang paling penting kemampuan saya berbicara. Bulan pertama sampai ke empat yaitu bulan Mei merupakan waktu yang sangat berat bagi saya dalam belajar bahasa Inggris. Susahnya itu karena di klub ini semua orang diwajibkan untuk berbicara English, no matter what !!!. Nah waktu itu Bahasa Inggris saya masih cetek alias belum mahir. Boro-boro mau ngomong, tiap kali ketemu atau dekat sama bule aja badan jadi panas dingin, wkwkwk :P. Asal kalian tahu, bulan-bulan pertama di klub kerjaan saya yaitu duduk mojok di sudut ruangan atau mojok di perpustakaan klub dan pura-pura baca buku. Itu cuma modus doang supaya enggak diajak ngobrol sama bule. Jujur, tiap kali bule-bule itu ngedeket dan ngajak ngobrol, nih mulut gak bias kebuka. Bisanya cuma ngangguk-ngangguk aja, entah itu tanda ngerti atau enggak tahu. Yang penting dulu itu pengen cepet-cepet selesai ngobrol, wkwkwkwk :P.

Anyway, ada alasan juga kenapa saya hanya diam dan enggak banyak ngobrol di awal-awal saya gabung ke klub. Itu karena saya mengikuti saran seorang teman sekaligus senior saya di KITA Klub. Sarannya kurang lebih bilang kalo saya mau cepat bisa ngomong cas cis cus dengan cepat yang pertama harus saya lakukan itu adalah Listening alias mendengarkan, lalu setelah itu Speaking atau bicara dan praktekkan apa yang kita dengar. Jadi dengan kata lain praktek, praktek, dan praktek. Tinggalin yang namanya teori karena itu enggak akan menolong kemampuanmu. Tuh contohnya kita sendiri, udah belajar Bahasa Inggris dari SD tapi sampe sekarang banyak yang masih gak bisa ngomong. Lanjut cerita saya mulai beranikan diri ngobrol sama teman-teman local saya dulu sekitaran bulan Juni. Saya punya teman dekat yang kemana-mana ngobrol Bahasa Inggris sama dia sekaligus jadi salah satu partner terbaik saya di KITA Klub yaitu Muhammad Alan atau disini kita panggil Alan aja. Ini orang gaya bicaranya ke-British-an alias menggunakan British English. Menurut saya itu keren banget karena gak semua orang bisa memimik British English kayak dia. Selain dengan Alan, saya juga beranikan ngobrol sama bule-bule yang ada disana. Walaupun jujur, awal-awal saya ajak ngobrol yah cuma nanya “How are you today?”, “What did you do today?”, atau bahkan cuma sekedar lewat dan bilang “Hi” lalu pergi ngilang, wkwkwkwk. Waktu itu benar-benar konyol deh kelakuan saya. Tapi lambat laun karena saya semakin kenal dengan teman-teman local saya dan bule-bule disana saya semakin berani untuk duduk di dekat mereka dan mengajak mereka ngobrol-ngobrol ringan.

Pada waktu itu bagi saya Speak Up itu benar-benar harga mati dan harus dilakukan. Bagaimana tidak, saya bermimpi untuk kuliah di Amerika Serikat, tapi kalo saya masih diam-diam duduk manis aja yah saya bakalan kehilangan kesempatan berharga seperti beasiswa Global UGRAD ini. Hampir tiap jadwal klub saya selalu datang dan gak pernah absen karena hanya di KITA Klub lah saya mempunyai kesempatan bebas untuk Speak Up. Jujur, di tempat lain saya gak bisa bebar ngobrol karena, pertama gak punya partner dan kedua saya sering diolok-olok alias dihina dan diejek ketika mau berbicara Bahasa Inggris. Gak bisa dipungkiri banyak yang gak suka dan bilang saya sombong dan hanya ingin unjuk kemampuan doang. Lah gimana mau unjuk kemampuan, wong ngomong aja waktu itu masih kayak orang gagap, wkwkwk. Kalo dibilang sih, di kampus saya lebih banyak Hater atau orang yang gak suka dengan saya dan kegilaan saya dengan Bahasa Inggris saya. Apalagi jika saya menyebutkan mimpi saya ingin kuliah di luar negeri, beuuuuhhh !!! banyak yang ketawa !!!.

Anyway, balik kecerita lagi. Di KITA Klub saya memiliki banyak partner ngomong dan teman yang bahkan mendukung mimpi saya ini. Disana banyak yang bermimpi untuk kuliah ke Australia, Korea Selatan, Jepang, Itali, Amerika Serikat dan lain-lain. Walaupun mimpi kita beda negara tapi kita tetap satu misi dan itulah yang membuat saya dan teman-teman saya di KITA Klub satu hati dan saling membantu menggapai mimpi kita masing-masing.

Alhasil, setelah perjuangan bolak-balik rumah-kampus-rumah-KITA Klub dengan menghabiskan bensin dan tenaga yang lumayan banyak tiap minggunya, kemampuan Bahasa Inggris saya semakin meningkat dan membaik. Saya sudah berani ngobrol panjang lebar dengan teman-teman lokal dan teman bule saya. Saya juga bahkan sudah membuat komunitas pencinta Bahasa Inggris sendiri yang bernama The Bloody Dreamer. Saya membuat komunitas itu bertujuan untuk menambah ruang dan waktu bagi mereka anggota KITA Klub yang ingin melatih kemampuan Bahasa Inggris mereka di luar jadwal KITA Klub. Karena jujur, jadwal KITA Klub yang 2 kali seminggu itu bagi saya kurang. Dengan membawa motto hidup No Days Without English jadi yah tiap hari harus ngobrol dengan Bahasa Inggris.

Pengorbanan saya selama di KITA Klub mulai dari pertengahan Januari 2013 benar-benar gak sia-sia. Saya benar-benar telah berubah dari seorang Passive Speaker menjadi Acctive Speaker. Dibuktikan dengan lolosnya saya proses interview beasiswa Global Ugrad yang diumumkan melalui e-mail pada pertengahan bulan Desember.

Pengorbanan yang penuh siksa, tawa, canda dan hina dari orang lain waktu itu benar-benar terbayar dengan lunas.

Baiklah, sampai sini dulu tulisan saya yang satu ini tentang tempat saya menimba ilmu dan menggapai mimpi saya, KITA Klub :). Tulisan berikutnya akan bercerita tentang bagaimana saya berjuang dalam setiap proses beasiswa Global UGRAD dengan pengalaman yang lucu bin ngeselin yang saya alami di dalamnya.

Tulisan ini murni hanya ingin berbagi pengalaman :).  Wassalam !

10 Kesalahan Dalam Pengisian Aplikasi Beasiswa

*****Every master began with a beginner*****
ImageGood afternoon fellas 🙂 …

Tulisan kali ini, aku membahas tentang kesalahan-kesalahan yang sering kita lakukan sewaktu mengisi aplikasi beasiswa. Kembali saya ambil materi ini dari buku Studying Abroad karangan Windy Ariestanty & Maurin Andri 😀 …

Without wasting so much time with intermezo, lets get the ball rollin’ !!! (/^O^)/

  1. Lupa mencantumkan nama dan/atau alamat. Kita bakal terkejut kalau tahu jumlah pelamar yang lupa mencantumkan nama dan alamat mereka di aplikasinya.
  2. Mengirimkan aplikasi yang belum lengkap. Cek sekali lagi kalau kita sudah memasukkan semua persyaratan yang diminta (referensi, foto, transkrip, dan esai).
  3. Bersikap kasar kepada para pewawancara. Membuat esai yang terlalu menggembar-gemborkan diri sendiri dan menuliskan bahwa tidak menerima kita sebagai kandidat penerima beasiswa adalah merupakan hal merugikan dan bodoh! Duh, bisa-bisa langsung dicoret. Percaya diri boleh, tapi jangan sampai overestimate.
  4. Mengirimkan aplikasi yang tidak rapi dan kotor.
  5. Nekat mengirimkan aplikasi walaupun kamu tahu IPK-mu  di bawah persyaratan aplikasi beasiswa.
  6. Mengirimkan aplikasi pada tanggal deadline.
  7. Mengirimkan amplop, tetapi lupa memasukkan formulir aplikasi ke dalamnya. Memang ini terdengar mengagetkan, tapi kenyataannya ini sering kali terjadi.
  8. Mengirimkan dokumen-dokumen yang tidak relevan. Misalnya, ketika diminta mengirim foto, kita justru mencantumkan foto ketika masih berumur enam tahun.
  9. Aplikasi sulit dibaca. Pilihan font terlalu rumit untuk dibaca atau tulisan yangan yang bahkan seorang dokter pun tidak bakalan memilikinya!
  10. Kesalahan eja. Satu saja kesalahan eja bisa membuat para penyeleksi menyingkirkan aplikasi. Ingat, kalau kita saja malas mengecek ulang ejaan di aplikasi, jangan berharap para penyeleksi mau meluangkan waktu untuk membacanya.

Itulah berbagai kesalahan yang sering kali kita lakukan dalam pengisian aplikasi beasiswa dan akibatnya bisa sangat fatal.

Okay then, thats all that I can write … see you on the next writing 😀 (/^O^)/ …

 

Source : the book of Studying Abroad created by Windy Ariestanty & Maurin Andri

Top 10 Tips Mendapatkan Beasiswa Ala Studying Abroad

*****Lets Studying Abroad 😀 !!! *****

Image

Hey guys, whats up ? 😀

Me ? I am doing good today 🙂

Well, today’s writing will be about “Beasiswa” or Scholarship again, hehehe. Like the tittle says “Top 10 Tips Mendapatkan Beasiswa Ala Studying Abroad”. Tips ini kembali aku ambil dari buku Studying Abroad karangan Windy Ariestanty & Maurin Andri. I am telling you, this book is really awesome for someone who really wants to go to Abroad especially for study purpose 🙂.

Tanpa membuang waktu lagi, Lets get the ball rolling !

  1. Kirimkan aplikasi bila merasa layak untuk mendapatkan beasiswa itu. Baca semua persyaratan beasiswa dan petunjuknya dengan cermat untuk memastikan kalau kita memang sesuai dengan kriteria untuk mendapatkan beasiswa tersebut.
  2. Isi semua pertanyaan di formulir aplikasi. Kalau ada pertanyaan yang tidak berlaku buat kita, maka jangan biarkan bagian itu kosong. Beri catatan di aplikasi. Lampirkan juga semua materi penunjang, seperti transkrip, surat rekomendasi dan esai.
  3. Ikuti petunjuk. Siapkan semua yang disyaratkan, tetapi jangan lampirkan hal yang tidak mereka butuhkan atau minta. Ini bisa menyebabkan kita didiskualifikasi, loh !
  4. Perhatikan kerapian. Ketik aplikasi atau kalau harus tulis tangan. Lakukan dengan rapi dan cukup jelas untuk dibaca. Fotokopi formulir aplikasi beberapa lembar sebelum mengisinya. Gunakan formulir fotokopiannya untuk uji coba mengisi aplikasi.
  5. Tulislah sebuah esai yang menimbulkan kesan. Kunci membuat esai yang kuat adalah menuliskannya secara personal dan spesifik. Tulislah dengan detail sehingga pengalaman terasa sangat hidup : siapa, apa, di mana dan kapan. Pengalaman yang paling sederhana bisa menjadi sangat monumental bila dipresentasikan dengan jujur.
  6. Perhatikan deadline keseluruhan. Sebaiknya, bikin deadline untuk diri sendiri. Jangan terlalu mepet sama tanggal deadline yang sebenarnya. Akan lebih baik bila semua persyaratan telah lengkap dua minggu sebelum tanggal deadline mereka. Gunakan waktu di antara deadline-mu dan deadline sebenarnya untuk memastikan semuanya siap dan tepat waktu. Jangan berharap ada perpanjangan deadline. Sangat jarang ada program beasiswa yang memperpanjang deadline.
  7. Pastikan aplikasi jatuh ke bagian yang tepat. Tuliskan namamu di setiap halaman aplikasi. Lembaran aplikasimu bisa saja hilang kecuali bisa teridentifikasi.
  8. Jangan lupa membuat data cadangan. Ini hanya untuk berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu. Sebelum mengirimkan aplikasi, sebaiknya gandakan semuanya terlebih dahulu. Apabila terjadi sesuatu dengan aplikasi kita, maka kita bisa menyiapkannya lagi dengan cepat.
  9. Jangan lupa melakukan cek akhir secara keseluruhan. Baca ulang keseluruhan aplikasi dengan cermat. Apakah ada yang salah ketik atau salah tulis, salah eja, grammar yang kurang tepat, dan sebagainya. Mintalah teman atau orang tua memeriksa ulang.
  10. Mintalah bantuan jika mendapatkan masalah denga aplikasinya, jangan ragu untuk menghubungi organisasi yang bersangkutan.

That all 🙂.

Itulah Top 10 Tips yang diberikan di buku Studying Abroad.

Semoga tulisan ini berguna bagi para pemimpi dan pemburu beasiswa yang saat ini sedang berjuang mengisi formulir beasiswanya.

I am praying for y’all 😀 !!!

Thanks in advance for reading my Blog 😀

Source : the book of Studying Abroad created by Windy Ariestanty & Maurin Andri

My Historical Declaration-I Put America Into My Backpack !!! (Aku Taruh Amerika Kedalam Ranselku !!!)

****Aku Taruh USA Kedalam Ranselku****

Image

Bismillah 🙂

1 tahun yang lalu aku pernah berfikir, “Ingin sekali rasanya punya blog sendiri dimana aku bisa bagi-bagi cerita dan pengalaman sekolah diluar negeri seperti bang Nanak” … hehehe :P, betul banget, aku terinspirasi sama blognya abang Nanak, alumni UGRAD 2011 dari Bandung. Sejak awal aku mencari tahu beasiswa Fulbright Undergraduate Exchange Program ini, blognya abang Nanak lah yang telah memberikanku motivasi dan inspirasi yang sangat sangat sangat bikin aku iri, hahaha :D. Well, at last I can make may own blog after receiving the same scholarship like bang Nanak got. I am Ugrader now and this blog will be fulfilled with many photos and stories about my experience :D, He*l yeahhhh !!!

*If a little dreaming is dangerous, the cure for it is not to dream less but to dream more, to more all the time*-Marcel Proust

Semua berawal dari aku dan 4 orang teman baikku pergi ke 21 Theater nonton film “5cm”. Aku terinspirasi banget sewaktu si Juple bilang gini, “Gue udah taruh puncak itu dan kita semua disini”. Dia ngomong gitu sambil naruh jari telunjuknya 5cm jauhnya dari kening. Setelah nonton film itu aku mulai gila, selalu naruh jari telunjuk di depan kening. Saking sukanya sama tu film aku udah nonton sebanyak 8 kali, buset dah, hahaha :D.

Well, mimpi untuk sekolah keluar negeri itu muncul sewaktu aku masih SD, karena waktu itu guru Bahasa Inggrisku pernah memujiku dalam test pengucapan angka. Dia bilang “Tingkatkan terus ya luqman bahasa Inggrisnya, siapa tahu nanti kamu bisa ke luar negeri !”. Itu kalimat benar-benar masih aku ingat.  

Sampai ketika aku mendapatkan informasi beasiswa Global UGRAD dari seniorku di English Club, kalimat itu masih membayangi fikiranku. Bukannya gila, tapi memang aku merasa senang luar biasa banget karena aku akhirnya melihat jalan dari beasiswa ini, yaitu jalan yang akan mengarahkanku ke pintu impian. 

Awalnya aku ragu mau nge-apply beasiswa ini atau enggak, karena banyaknya kekurangan dalam diri ini terutama kemampuan bahasa Inggrisku. Benar-benar gak PeDe dan kecil motivasi. Aku mendapatkan informasi mengenai beasiswa ini bulan Februari dan pada saat itu aku masih seorang passive user alias gak bisa ngomong. Cuma bisa ngomong yes no yes no doank, hehehe :P. 

Tapi berkat usaha yang lumayan keras sekeras batu dan gila segila orang gila beneran saya berhasil menjadi active user dalam waktu 10 bulan. Hal itu bukanlah hal yang mudah karena aku mengorbankan semua waktuku, benar benar semua waktuku hanya untuk belajar Bahasa Inggris. Jadi dulu motto hidupku “No Days Without English” :).

Well, salah satu senior di KITA Klub memberi tahu ku bahwa ada member dari Klub ini bernama Emman Sudianto Marpaung yang mendapatkan beasiswa Global UGRAD dan masih belajar di Amerika Serikat waktu itu. Mereka bilang kalo bang Emman akan pulang ke Indonesia pertengahan Agustus nanti. 

Darah mendidih, nafsu bergejolak dan rasa senang dan bahagia bercampur aduk sewaktu tahu kalau ada mahasiswa Bengkulu yang dapat beasiswa ini, karena difikiranku sewaktu itu adalah bahwa aku bisa minta diajari cara mendapatkan beasiswa ini. Bagaimanapun, meminta ilmu dari alumni program yang kita ingin ikuti benar-benar suatu hal yang sangat menguntungkan :D.

Pada saat itu rasa inginku menjadi besar dan benar-benar ingin mengikuti beasiswa Global UGRAD ini walaupun sudah aku prediksikan bahwa aku nanti akan gagal. Yah minimal dapat pengalaman lah.

Suatu hari di bulan juli aku buka-buka Facebooknya bang Emman. Foto-fotonya itu beuuhhhh :v ,,,, bikin iri euy. Baru ngeliat fotonya aja sudah membuat saya keringatan. Gimana enggak keringatan kalo foto-fotonya diambil sewaktu dia sekolah di Amerika Serikat, tepatnya Mississippi State. Gilaaa, benar-benar bikin saya iri banget !!!. 

Pada saat itu, timbul keinginan untuk berteriak dan mendeklarasikan bahwa aku benar-benar ingin menjadi seperti bang Emma, bisa sekolah ke luar negeri dan mengecap pendidikan disana. Teringat juga waktu itu untuk mengikuti gayanya Juple dari film 5cm :P. Cermin lemari menjadi pelampiasanku, sambil mengangkat tangan dan menaruh jari telunjuk didepan kening sejauh 5cm. aku berkata “Hari ini, aku deklarasikan bahwa akan aku taruh Amerika di Ranselku !” …

*The End of The First Story-Declaration !”

Tips Mengisi Formulir Aplikasi Beasiswa

*****Bermimpilah setinggi-tingginya, maka Tuhan akan memeluk mimpimu itu*****

Hey guys 😀

Tulisan pertamaku di bulan Juni :D, sebenarnya lagi galau sekarang, sebab hari ini tepat 2 minggu dari hari PDO (Pre-Departure Orientation) Fulbright UGRAD dan tetap belum ada pengumuman aku dapat di universitas apa :(. Banyak alumni yang bilang kalo sekarang saya lagi di University of TBD, maksudnya To Be Determined alias masih ditentukan, lololololol :D.

Okay, lets stop bergalau-galauannya

Tulisan kali ini membahas mengenai tips dalam mengisi formulir aplikasi beasiswa yang diambil dari buku STUDYING ABROAD karya Windy Ariestanty & Maurin Andri.

Image

Image

 

Jangan pernah berfikir kalau mengisi formulir beasiswa itu gampang dan akan selesai dalam 1 atau 2 hari pengerjaan. That is really impossible !!! Well, possible sih, cuma gak berkualitas dan gak berbobot. Kita gak bisa tergesa-gesa dalam  mengisi formulirnya, perlu ketelitian dalam menjawab semua pertanyaan sehingga menjadikan formulir kita benar-benar formulir yang layak lolos tahap aplikasi :). Well, here are some tips from the book :

1. Pastikan untuk membaca seluruh formulir aplikasi dengan hati-hati. Pahami maksud dari setiap pertanyaan.

2. Jika mengisinya dengan tulisan tangan, pastikan tulisan kita terbaca, karena tulisan tangan dapat menunjukkan keseriusan. Langkah lainnya adalah mengetik jawaban dengan rapi. Cek lagi ejaan setiap kata, terutama bila menggunakan bahasa Inggris.

3. Penggunaan bahasa Inggris yang baik dan benar juga sangat penting. Aplikasimu akan dibaca oleh petugas aplikasi non-Indonesia. Kalau takut salah, berlatihlah menulis jawaban di kertas lain terlebih dahulu. Persiapkan jawabanmu, lalu salin di formulir aslinya.

4. Tujuan studi dan alasan lain yang ditulis di formulir aplikasi akan dinyatakan pada waktu unforgettable/interview (jika kamu lolos ke penyaringan aplikasi). Pastikan kamu tahuh persis jawaban yang tertulis di formulir aplikasi.

5. Saat mengisi bagian tentang aktivitas dan prestasi, tulislah yang relevan dengan beasiswa dan bidang studi pilihan. Bila kolomnya tidak mencakupi, bersikaplah selektif, tinggalkan yang kurang penting.

6. Bila diminta rekomendasi, mintalah dari dosen yang mengenal kamu. Dengan begitu, rekomendasi yang kamu dapatkan tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga bersifat personal sehingga isi surat akan berkesan bagi pembacanya.

7. Salah satu bagian terpenting dalam formulir aplikasi adalah pernyataan tentang diri sendiri. Biasanya, kamu akan diminta membuat esai. Ini kesempatan kamu untuk “menjual” segala kelebihan yang memang kamu miliki. Cari tahu kriteria utama yang diinginkan oleh pihak pemberi beasiswa, misalnya beasiswa Fulbright mencantumkan leadership skill sebagai salah satu syaratnya. Nah, tulislah pengalaman atau prestasi yang menunjukkan kemampuan kita di bidang kepimimpinan. Sertakan contoh yang konkret, jangan bertele-tele.

8. Cek kembali deadline aplikasi, jangan sampai terlambat mengirim. Hindari mengisi aplikasi dengan tergesa-gesa atau sehari sebelum penutupan. Hal ini dapat mengurangi konsentrasi dalam menuliskan jawaban. Padahal beberapa pertanyaan akan sangat menentukan keberhasilan. Kalau perlu, minta dosen atau teman membaca terlebih dahulu jawaban sebelum dikirimkan.

9. Jangan ragu untuk bertanya pada lembaga pemberi beasiswa yang bersangkutan apabila ada pertanyaan atau prosedur yang kurang jelas. Coba hubungi penerima beasiswa sebelumnya sehingga kita bisa memperoleh masukan dan mencuri ilmu dari mereka

Nah itulah tips yang diberikan oleh buku STUDYING ABROAD. Aku yakin gak semua orang mempunyai buku bagus ini. Bagi kalian yang ingin sekolah keluar negeri, buku ini sangat saya rekomendasikan buat kalian karena dibahas semua hal-hal yang mutlak harus kita ketahui. Kalian bisa pesan di bukabuku.com dengan harga Rp.59000 (udah termasuk ongkos).n

Based on my own experience, tahun lalu saya mulai mengisi aplikasi 2 bulan sebelum deadline. Dengan demikian saya mempunyai banyak waktu untuk mempersiapkan segala hal yang diperlukan dan diminta oleh pihak pemberi beasiswa.

Untuk info, sekali lagi ini bukanlah 100% hasil pemikiran saya, tapi tips diatas saya ambil dari buku. berhubung tipsnya bagus-bagus apa salahnya donk jika saya bagikan ke teman-teman yang lain yang sedang bertempur melawan aplikasi beasiswa. Dan juga, saya yakin sang penulis gak akan komplain kok ( gayanya yakin banget, hehehe 😛 )

Well, semoga tulisan ini bermanfaat 😀

Salam pemimpi muda, salam Inspirator Freak !!!

Source : STUDYING ABROAD, penulis : Windy Ariestanty & Maurin Andri, penerbit : GagasMedia